Entah kebetulan atau tidak, saya melihat tiga desain iklan dari perusahaan yang berbeda yakni Biznet, Lippo Bank dan Indosat Matrix ini menggunakan strategi kreatif yang sama yakni thema kampanye adapt untuk fungsi tongkat persneling mobil. Fleksibilitas tongkat pengatur gigi kecepatan tersebut menggambarkan keunggulan produk yakni pada fleksibilitas fitur layanan. Pada Bisnet, sebuah perusahaan jasa konekasi internat, membebaskan pelanggannya untuk memilih sendiri besar bandwidth yang dikehendaki. Lippo Bank menunjukkan fitur produk LB Multi Pay yakni layanan jasa keuangan yang dapat digunakan untuk pembayaran kewajiban perusahaan mulai dari bayar gaji bulanan pegawai sampai dengan pajak. Kemudian Indosat Matrix menawarkan layanan Matrix Auto yang memungkinkan pelanggan untuk merubah status pembayaran rekening telpon seluler dari pasca bayar ke pra bayar untuk pengendalian penggunaan telpon yang berlebihan. Meskipun tidak ada masalah dengan ketiga iklan bersangkutan, namun selaku pengamat iklan, saya pikir alangkah indahnya bila karya iklan bisa benar-benar just noticeably different, sehingga tidak terkesan me too. Sorry to say...
Iklan: Pemain Basket - Scott's Cod Liver (2007)
Tampak seorang pemain basket berkulit hitam menengadah sambil menganga. Barangkali bagi orang awam menjadi sedikit rumit untuk memahami pesan dalam iklan ini. Iklan ini menggunakan emotional appeal yakni humor appeal guna menunjukkan positioning Scott's Cod Liver sebagai produk suplemen kesehatan yang membantu proses pertumbuhan badan. Pemain basket tersebut keheranan melihat pemain lawannya yang "sangat tinggi" karena rutin mengkonsumsi produk tersebut.
Iklan: Tinta Asli - Hewlett Packard (2000)
Iklan produk tinta printer HP ini termasuk tricky. Banyak interprestasi yang bisa disimpulkan oleh pemirsa ketika melihatnya. Ada pemirsa yang berpikir: "Ibu ini harus ke salon untuk membersihkan tangannya yang kotor gara-gara menggunakan tinta palsu." Pemirsa yang lain mungkin berpikir: "Karena urusannya beres atau cepat selesai, ibu ini punya cukup waktu untuk memanjakan diri ke salon." Mana yang benar? Menurut saya keduanya sama-sama salah. Iklan ini adalah bentuk emotional appeal untuk menunjukkan psychological value ketika konsumen memilih tinta printer HP yang asli. Perasaan nyaman yang timbul ketika seseorang sedang menjalani perawatan manicure atau pedicure adalah sama dengan perasaan konsumen yang muncul karena memilih menggunakan tinta asli. Mereka tidak akan terganggu dengan hasil cetakan yang bermasalah gara-gara menggunakan tinta isi ulang. Kerja lancar dan bebas masalah!
Iklan: Sosialisasi Perpajakan - Ditjen Pajak Depkeu RI (2007)
Desain Iklan-iklan kampanye perpajakan ini terlihat cukup segar. Meskipun kesan iklan-iklan Pemerintah yang biasanya "kaku berwibawa" masih tampak pada pemilihan tipe font dan dari segi komposisi layout.. Tulisan "lunasi pajaknya, awasi penggunaannya" kurang terlihat dengan jelas. Hal lain yang saya anggap kurang pas adalah ekspresi wajah pada endorser wanita. Wajahnya kelihatan tidak seserius komentarnya. Iklan ini mencoba menyadarkan masyarakat untuk membayar pajak melalui emotional appeal dengan menumbuhkan budaya malu. Namun mestinya konteksnya jangan ke "dunia" tapi lebih ke "lokal" saja, karena saya yakin sensitivitas orang Indonesia tidak seglobal seperti yang dimaksud.
Iklan: Program Debat Kecantikan - Sabun Dove (2006)
Iklan-iklan dari program debat kecantikan yang diadakan produsen Sabun Dove melalui website www.forrealbeauty-id.com sungguh menarik untuk disimak. Tiga varian iklan tersebut mengajak pemirsa untuk melakukan proses selective perception atau melihat sisi lain dari sebuah obyek. Seorang wanita tomboy yang maskulin bisa lebih dipandang sebagai sosok yang manis. Seorang wanita gendut dapat lebih dilihat sebagai sosok bertubuh sexy. Seorang wanita beruban bisa juga dianggap sebagai sosok berambut menawan. Iklan-iklan tersebut memberikan sebuah pencerahan bahwa kecantikan itu bersifat relatif. Semua wanita apapun kondisinya, pada hakekatnya tetap memiliki sisi kecantikannya sendiri-sendiri. Dengan demikian Sabun Dove mencoba mengangkat rasa percaya diri para wanita dengan mengajak berpikir positif yakni memandang sebuah kekurangan sebagai suatu kelebihan (perceptual defense).
Iklan: Safety & Security Campaign Program - Maskapai Air Asia (2006)
Ketika melihat Iklan Air Asia yang mempromosikan fasilitas layanan online, saya agak terkejut. Saya paham sekali bahwa iklan ini sebetulnya mencoba membuat analogi sederhana mengenai betapa mudahnya bertransaksi online, kalau monyet saja bisa apalagi manusia. Namun, bisa saja iklan ini ternyata dipersepsikan berbeda. Pemirsa justru menganggap Air Asia menyamakan pelanggannya dengan seekor monyet. Indonesia dan mayoritas negara Asia tergolong sebagai masyarakat dengan budaya high context, yakni proses komunikasi dilakukan tidak hanya berdasar pesan yang diucapkan atau ditulis, tetapi juga dikaitkan dengan situasi dan kondisi lingkungan yang melingkupi. Dengan demikian, saya meyakini bahwa iklan ini cukup beresiko, apalagi Air Asia adalah perusahaan Malaysia yang semestinya harus lebih berhati-hati ketika berbisnis di negeri orang.
Iklan: Promosi Penjualan Tabungan Mega Dana - Bank Mega (2005)
Sekilas terlihat bahwa program promosi penjualan Bank Mega menawarkan sesuatu yang tidak lazim. Biasanya bank-bank menawarkan hadiah undian yang prestisius semisal sepeda motor, mobil, atau rumah untuk menarik animo masyarakat penabung, tetapi justru Bank Mega hanya menawarkan hadiah langsung satu dus mie goreng instan untuk setiap nasabah yang membuka rekening tabungan baru dengan nilai setoran minimal Rp 100 ribu. Banyak pihak yang sinis dengan program ini: "Apakah hadiah tersebut tidak justru malah menurunkan image Bank Mega di mata konsumen? ". Saya tidak setuju dengan opini mereka, kalau melihat nilai setoran minimalnya, Tabungan Mega Dana memang lebih diperuntukkan untuk masyarakat menengah bawah. Sehingga bagi mereka, hadiah "sepele" tersebut sangat berarti sekali. Dan kesan"kampungan" pun juga tidak terbukti, karena nasabah diarahkan untuk mengambil hadiah melalui outlet Indo Grosir terdekat, jadi bukan di outlet Bank Mega sendiri. Dengan demikian resiko sosial yang ditakutkan tidak akan terjadi, karena hadiah mie goreng akan berbaur dengan barang belanjaan lainnya. It is okay!
Iklan: Koboi - Chupa Chups (2005)
Banyak orang tersenyum melihat iklan Chupa-Chups ini. Sekilas seperti iklan rokok Marlboro, tetapi setelah diamati lebih teliti ternyata si koboi sedang menghisap permen. Merek lain yakni Wrangler juga pernah mencoba mengikuti jejak Marlboro dengan menggunakan thema western cowboy. Secara teori, merek Chupa-Chups mencoba menerapkan model classical conditioning yakni merek Chupa-Chups sebagai stimulus sekunder dipasangkan dengan sosok koboi sebagai stimulus primer yang sudah memiliki respon alami (unconditioned) yakni kesan macho, independen, dan kuat. Sehingga kemudian diharapkan akan timbul asosiasi yang mengkaitkan antara stimuli primer dan stimuli sekunder. Ketika konsumen mengkonsumsi permen Chupa-Chups, secara psikologis dia akan merasa menjadi lebih macho, independen dan kuat. Namun demikian, karena thema koboi sudah terlanjur digunakan merek Marlboro secara konsisten, maka strategi kreatif iklan ini cenderung tidak efektif. Pemirsa akan lebih mengingat Marlboro dibanding Chupa-Chups ketika melihat sosok koboi.
Iklan: Grow & Prosper Together - Multipolar (2001)
Learning relationship adalah suatu kondisi dimana kegiatan perusahaan menjadi semakin efisien dan efektif karena benar-benar memahami kebutuhan pelanggannya, dan para pelanggan juga menjadi semakin puas karena memperoleh layanan barang dan jasa persis sebagaimana yang diinginkan. Kedua pihak kemudian semakin lama akan semakin bergantung satu sama lain. Demikianlah tujuan utama yang ingin dicapai melalui penerapan strategi relationship marketing dan digambarkan secara cerdas pada iklan Multipolar. Multipolar menyampaikan pesan bahwa prinsip hubungan yang mereka kembangkan dengan para nasabah adalah sebagaimana hubungan yang terjadi antara ibu dan anak. Layanan mereka tidak akan bersifat transaksional sebagaimana seorang ibu yang tidak pernah berhitung pada anaknya. Nasabah diharapkan kemudian menjadi puas, lega dan tentram sebagaimana perasaan seorang anak ketika dalam pelukan ibunya.It is really a very good ad!
Iklan: Ibu Kreatif - Blue Band (2000)
"Ihhh ibu bisa aja...." komentar si anak ketika melihat sang ibu membuatkan sarapan roti dengan desain kapal layar. Sekilas iklan ini bisa dianggap untuk target pemirsa anak, namun sebenarnya Iklan ini memiliki pesan terselubung yang ditujukan pada pemirsa ibu. Yakni bahwa hanyalah ibu-ibu yang kreatif-lah yang akan memilih merek Blue Band. Produk margarin yang biasanya diiklankan melalui rational appeal yakni aplikasi-aplikasi yang menunjukkan kualitas hasil masakan, sekarang dikomunikasikan dengan emotional appeal. Sip deh!